Lelyedna020's Blog

Lihat, apa yang kamu temukan!

PROSAL PTK Desember 28, 2009

Filed under: Tugas Kuliah — lelyedna020 @ 10:00 am

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) TERHADAP TINGKAT PENGUASAAN KOMPETENSI MENDESKRIPSIKAN PERJUANGAN PARA TOKOH PEJUANG PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA DAN JEPANG MATA PELAJARAN IPS KELAS V SDN WATUKENONGO I”

 

OLEH :

LELY EDNA DWIYANI

NIM O71644020

S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2009

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   LATAR BELAKANG

Dalam pembelajaran di kelas, guru memberikan materi dari berbagai mata pelajaran yang telah diatur dalam kurikulum. Beberapa mata pelajaran berisi materi ilmu pasti atau eksakta seperti pembelajaran IPA dan Matematika. Namun ada juga mata pelajaran yang lebih mengutamakan pemahaman dan hafalan sebuah konsep seperti IPS dan PKn.

Mata pelajaran IPS sebagaimana tertuang dalam kurikulum adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan ilmu social (Depdiknas, 2006)

Pembeajaran saai ini siswa dipandang sebagai subjek yang berkembang melalui pegalaman belajar sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator belajar bagi siswa, membantu dan memberikan kemudahan agar siswa mendapatkan pengalaman belajar sesuai dengan kemampuannya. Namun yang terjadi selama ini, banyak guru yang mendominasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa kurang terlibat partisipasinya dan kurang mendapatkan pengalaman yang bermakna. Contohnya pada materi sejarah kebanyakan guru hanya berceramah panjang lebar pada proses pembelajaran tanpa melibatkan siswa didalamnya.

Selain dominasi guru, ketidak variatifan penyajian materi terkadang mengakibatkan siswa merasa jenuh dan tidak bersemangat dalam belajar sehingga siswa merasa kesulitan dalam mengerti, memahami dan menghafal konsep-konsep. Padahal di sisi lain pemberian pemahaman konsep-konsep IPS haruslah mendalam karena hal tersebut akan menjadi bekal dalam menghadapi tantangan hidup. Pemahaman konsep IPS dapat dilakukan dengan cara mengerti, memahami dan menghafal konsep-konsep tersebut.

Banyak pilihan metode  pembelajaran yang dapat diterapkan guru untuk meningkatkan pemahaman siswa khususnya mata pelajaran IPS, salah satunya adalah metode Bermain Peran (Role Playing). Role playing merupakan cabang dari metode simulasi yang didalamnya meminta siapa saja yang terlibat di dalam strategi tersebut untuk menganggap dirinya sebagai orang lain yang tujuannya adalah unutk mempelajari bagaiman orang lain bertindak dan merasakan (H. Abdul Azis W., 2007:108)

Minimnya dokumentasi video dan gambar-gambar tentang kegiatan sosial, fenomena sosial dan khususnya peristiwa sejarah mebuat siswa sulit membayangkan dan memahami kejadian sosial apa saja yang ada di sekitarnya, sehingga rasa ketertarikan terhadap mata pelajaran IPS pun menurun. Untuk itulah digunakan metode bermain peran (Role Playing) agar siswa lebih termotivasi dan tertarik pada pembelajaran IPS sehingga dapat dengan mudah menguasai konsep-konsep yang ada dengan baik.

Berdasarkan uaraian di atas  pada penelitian kali ini penulis mengambil judul “PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) TERHADAP TINGKAT PENGUASAAN KOMPETENSI MENDESKRIPSIKAN PERJUANGAN PARA TOKOH PEJUANG PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA DAN JEPANG MATA PELAJARAN IPS KELAS V SDN WATUKENONGO I”.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH

“Bagaimana pengaruh penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) terhadap tingkat penguasaan kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang mata pelajaran IPS kelas V SDN WATUKENONGO I?”

  1. C.     TUJUAN PENELITIAN

Ingin mengetahui pengaruh penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) terhadap tingkat penguasaan kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang mata pelajaran IPS kelas V SDN WATUKENONGO I

  1. D.     MANFAAT PENELITIAN 
    1. Meningkatkan perhatian siswa kelas V dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPS pada kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.
    2. Meningkatkan keaktifan siswa kelas V dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPS pada kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.
    3. Meningkatkan pemahaman siswa kelas V dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPS pada kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.     URAIAN TEORI
    1. 1.      PEMBELAJARAN IPS
      1. a.        Pengertian IPS

1)      Wikipedia Bahasa Indonesia,  

Ilmu Pengetahuan Sosial, biasa disingkat IPS, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia di masa kini dan masa lalu. IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat

2)      Somantri, 2001 : 103.

Pendidikan IPS adalah penyederhanaan adaptasi, seleksi, dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila.(dalam Suhanadji et al,2003)

3)      National Council for Social Studies (NCSS)

Social Science Education Council (SSEC) dan menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”.
Pada tahun 1992, NCSS telah mendefinisikan IPS sebagai berikut :

Yakni sebagai mata pelajaran merupakan 1) suatu system pengetahuan, yang mengembangkan pendidikan kewarganegaraan dalam masyarakat demokratis dalam kegidupan berbangsa dan masyarakat dunia. 2) Bersumberkan pengetahuan sejarah, pengetahuan social dan humaniora, 3) kemampuan sebagai warga Negara yang memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk dapat berperan serta dalam kehidupan demokrasi (dalam Ichas Depdiknas,2006)

4)      Puskur Depdiknas, 2006

Mata pelajaran IPS sebagaimana tertuang dalam kurikulum adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan ilmu social

5)      Library UT

 IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah yang meng­kaji seperangkat peristiwa, fakta, kon­sep, dan generalisasi yang berkaitan dengan masalah sosial. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indo­nesia yang demokratis, bertanggung jawab, dan menjadi warga dunia yang cinta damai

6)      Prof. Dr. S. Nasution

IPS adalah pelajaran (bidang studi) yang merupakan suatu fusi atau panduan dari sejumlah mata pelajaran sosial

  1. b.        Karakteristik Pembelajaran IPS

Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.

1)        Materi IPS

Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:

a)      Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.

b)      Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.

c)      Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.

d)     Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.

e)      Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.

2)      Strategi Penyampaian Pengajaran IPS

Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).

Sebutan Masa Sekolah Dasar, merupakan periode keserasian bersekolah, artinya

anak sudah matang untuk besekolah. Adapun kriteria keserasian bersekolah adalah sebagai berikut.

a)      Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.

b)      Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.

c)      Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah.

  1. c.         Kendala Pembelajaran IPS

Banyak penyebab yang melatar belakangi mengapa pendidikan IPS belum dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal pada kurikulum, rancangan, pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran.

Sebagai pelaksana,para pendidik masih perlu penyesuaian dengan KTSP, para guru sendiri belum siap dengan kondisi yang sedemikian plural dan materi IPS yang memiliki cakupan sangat kompleks sehingga untuk mendesain pembelajaran yang bermakna masih kesulitan. Sistem pembelajaran duduk tenang, mendengarkan informasi dari guru sepertinya sudah membudaya sejak dulu, sehingga untuk mengadakan perubahan ke arah pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan agak sulit. Oleh karena itu, walaupun penggunaan model pembelajaran terpadu dipandang sebagi salah satu inovasi dalam pembelajaran IPS, akan tetapi guru tetap saja belum dapat melaksanakannya secara optimal.

Berdasarkan pengamatan awal terhadap pelaksanaan proses pembelajaran IPS di SDN Anjasmoro Semarang diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran, guru belum memberdayakan seluruh potensi dirinya sehingga sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu menghafal fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. (Trimo, 2008:2)

Berkenaan dengan kurikulum dan rancangan pembelajaran IPS, Hasil penelitian Balitbang Depdikbud tahun 1999 menyebutkan, Kurikulum 1994 tidak disusun berdasarkan basic competencies melainkan pada materi, sehingga dalam kurikulumnya banyak memuat konsep-konsep teoretis (Boediono et al, 1999: 84). Beberapa penelitian pernah memberi gambaran tentang kondisi tersebut. Hasil Evaluasi Kurikulum IPS SD Tahun 1994 menggambarkan adanya kesenjangan kesiapan siswa dengan bobot materi sehingga materi yang disajikan dianggap terlalu sulit bagi siswa, kesenjangan antara tuntutan materi dengan fasilitas pembelajaran dan buku sumber, kesulitan manajemen waktu, serta keterbatasan kemampuan melakukan pembaharuan metode mangajar (Depdikbud, 1999).

  1. 2.      perkembangan anak kelas v sd

Anak kelas V SD berada pada usia sekitar 10-11 tahun. Berikut beberapa teori perkembangan yang sesuai dengan anak pada kelas V SD

  1. a.      Aspek Perkembangan Peserta Didik SD/MI

Merujuk kepada beberapa hasil studi sebagai dapat diangkat dari berbagai wacana, Hurlock misalnya mengangkat sejumlah aspek yang harus menjadi perhatian di dalam memahami perkembangan, khususnya berkenaan dengan fase perkembangan antara 6 sampai 12 tahun. Tidak kurang drai 10 aspek tersebut antara lain:

1)      Aspek Sosial

2)      Aspek Perasaan (senang, sedih, marah, jengkel, kasihan, simpati)

3)      Aspek Motorik (gerakan aktivitas sehari-hari)

4)      Aspek Bahasa

5)      Aspek Pikiran (kemampuan menerima informasi yang bersifat konkrit)

6)      Aspek Pengamatan (mencermati proses, bagian-bagian)

7)      Aspek Kepatuhan (aturan keagamaan, kesisilaan, kesopanan)

8)      Aspek Fantasi

9)      Aspek Perhatian

10)  Aspek Pembuatan Keputusan (menunjukkan sikap terhadap situasi panas, dingin, serta membedakan baik, buruk, boleh, tidak boleh, dsb)

  1. b.      Perkembangan Psikoseksual ( Freud)

Fase laten (6-12 tahun) 

1)      Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak akan menggunakan energi fisik dan psikologis untuk mengeksplorasi  pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas fisik maupun sosialnya.

2)       Pada awal fase laten ,anak perempuan lebih menyukai teman dgn jeni skelamin yang sama, demikian juga sebaliknya.

3)      Pertanyaan anak semakin banyak, mengarah pada sistem reproduksi (Orang tua harus bijaksana dan merespon) 

Oleh karena itu apabila ada anak tidak pernah bertanya tentang seks, sebaiknya orang tua waspada ( Peran ibu dan bapak sangat penting dalam melakukan pendekatan dengan anak).

  1. c.       Perkembangan Psikososial ( Erik Erikson  )

Industry versus inferiority (6-12 tahun)

1)      Anak akan belajar untuk bekerjasama  dan bersaing dalam kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan yang dilakukan bersama.

2)       Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan sehingga anak pada usia ini rajin dalam melakukan sesuatu.

3)       Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkunganya dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul rasa inferiorty ( rendah diri ).

4)       Reinforcement dari orang tua atau orla  menjadi begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan sesuatu.

  1. d.      Perkembangan Kognitif ( Piaget )

1)      Tahap Kongkret (7-11 tahun)

a)      Pemikiran anak meningkat atau bertambah logis dan koheren

b)      Kemampuan berpikir anak sudah operasional, imajinatif dan dapat menggali objek  untuk memecahkan suatu masalah.

2)      Tahap operational ( 11 -15 tahun)

a)      Anak dapat berpikir  dengan pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan yang logis.

b)      Anak dapat membuat dugaan dan mengujinya dengan pemikiran yang abstrak,teoritis dan filosofis.

c)      Pola berfikir logis membuat mereka mampu berfikir tentang apa yang orang lain juga memikirkannya dan berfikir untuk memecahkan masalah.

  1. 3.      Metode Bermain Peran (Role Playing)
    1. a.    Pengertian Metode Bermain Peran

Bermain peran adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu seperti menghidupkan kembali suasana historis misalnya mengungkapkan kembali perjuangan para pahlawan kemerdekaan, atau mengungkapan kemungkinan keadaan yang akan datang, misalnya saja keadaan yang kemungkinan dihadapi karena semakin besarnya jumlah penduduk, atau menggambarkan keadaan imaginer yang dapat terjadi di mana dan kapan saja. Melalui itu siswa “memasuki diri “ orang lain/individu lain dan dengan perilaku seperti orang yang diperankannya, siswa akan memperoleh pengetahuan tentang orang dan motivasinya yang menandai perilakunya. Peranan adalah merupakan serangkaian perasaan, kata-kata, tindakan-tindakan terpola dan unik yang telah merupakan kebiasaan seseorang dalam berhubugan dengan orang lain, termasuk berhubungan dengan situasidan benda-benda. (Ichas, 2006:93)

  1. b.      Tujuan Penggunaan Metode Bermain Peran

Sebagai salah satu bentuk strategi mengajar dalam IPS/SS bermain peran memiliki beberapa tujuan dan manfaat seperti misalnya yang dikemukakan oleh Fannie R Shaftel dan Geprge Shaftel (1967) bahwa metode bermain peran mempunyai beberapa fungsi utama namun dua fungsi utamanya adalah  “education for citizen” dan ‘group counseling” yang dilakukan oleh guru kelas.  Beberapa diantara tujuan-tujuan yang dimaksud di antaranya adalah:

1)      Untuk menghayati sesuatau / hal / kejadian sebenarnya dalam realitas kehidupan

2)      Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya

3)      Mempertajam indra dan perasaan siswa terhadap sesuatu

4)      Sebagai penyaluran / pelepasan tensi (energy berlebih) dan perasaan-perasaan

5)      Sebagai alat diagnosa keadaan

6)      Ke arah pembentukan konsep secara mandiri

7)      Menggali peran-peran dari pada dalam suatu kehidupan, kejadian, atau keadaan

8)      Menggali dan meneliti nilai-nilai (norma) dan paranan budaya dalam kehidupan

9)      Membantu siswa dalam mengklarifikasi (memperinci, memperjelas) pola berpikir, berbuat dan keterampilannya dalam membuat atau mengambil keputusan (decision making) menurut caranya sendiri

10)  Membina siswa dalam kemampuan memecahkan masalah

11)  Berpikir kritis analitis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dll.

12)  Melatih anak kearah mengendalikan dan memperbarui, perasaannya, cara berpikir dan perbuatannya (dalam Ichas Hamid, 2006:95)

Di samping itu Leonard H. Clark juga mengemukakan beberapa tujuan penggunaan metode bermain peran diantaranya adalah:

1)      To motivate or launch units

2)      To culminate units

3)      To make clear historical or contemporary situation in which there are conflicting emotions, different points of view, biased, problem caused by differences in race, age, religion, nationality, or ethnic back ground so on.

(a)    By making the pupils aware of the differences in points of view and their consequences.

(b)   By making pupils aware of the attitudes and feelings of the people involved in the situations and to sensitizes them to the feeling of others.

(c)    By developing more vivid concepts

4)      To change attitudes

5)      To teach values

6)      To teach content having to do with human relationship

7)      To develop citizenship skills by showing both the successful and unsuccessful  methods we use to solve intergroup and interpersonal problems, by providing practice in taking real life roles, and by practicingbthe democratic process. (Clark, 1973:73)

  1. c.       Kelebihan Metode Bermain Peran

Permainan bagi siswa mempunyai beberapa manfaat dan mampu menanamkan beberapa nilai sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Nur Suwaid dalam kitabnya Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyyah Lil-Athfal.

1)      Nilai fisik.

Permainan yang aktif sangat penting bagi penumbuhan otot anak. Melalui bermain, ia akan berlatih keterampilan dalam menemukan dan menghimpun sesuatu.

2)      Nilai edukatif.

Permainan membuka peluang seluas-luasnya bagi siswa untuk belajar tentang banyak hal melalui alat-alat permainan yang bervariasi, seperti mengenal bentuk, warna, atau ukuran.

3)      Nilai sosial.

Dengan bermain siswa akan belajar membangun hubungan sosial dengan orang lain dan belajar cara bergaul dengan mereka. Melalui permainan kolektif ia juga dapat belajar bagaimana memberi dan menerima.

4)      Nilai akhlak.

Melalui permainan, siswa akan mempunyai pemahaman awal tentang benar dan salah. Ia juga akan mengenal beberapa nilai akhlak dalam bentuk awal, seperti keadilan, kejujuran, amanah, disiplin, dan sportivitas.

5)      Nilai kreativitas.

Dengan permainan, siswa dapat mengungkapkan kemampuan kreativitasnya dan mempraktikkan gagasan-gagasan yang dimilikinya.

6)      Nilai kepribadian.

Melalui permainan siswa akan mampu menemukan banyak hal tentang dirinya. Ia dapat mengukur kemampuan dan keterampilannya melalui interaksinya dengan teman-temannya. Ia juga belajar menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya.

7)      Nilai solutif. 

Dengan permainan, siswa akan keluar dari ketegangan yang muncul akibat banyaknya ikatan yang dipaksakan kepadanya. Makanya, kita sering menyaksikan anak-anak yang berlatar belakang keluarga yang terlalu banyak ikatan, perintah, dan larangan, bermain lebih agresif dibandingkan anak lainnya. Bermain juga merupakan salah satu sarana yang baik untuk mencairkan permusuhan. 

  1. d.      Kelemahan Metode Bermain Peran

Walaupun penggunaan metode ini banyak memberi keuntungan dalam penggunaannya namun sebagaimana juga metode-metode mangajar lainnya metode ini mengandung beberapa kelemahan diantaranya :

1)        Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh

2)        Bermain peran mungkin tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung

3)        Bermain peran tidak selamanya menuju pada arah yang diharapkan seseorang yang memainkannya. Bahkan juga mungkin akan berlawanan dengan apa yang akan diharapkannya

4)        Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan bai apa yang aka diperankannya

5)        Bermain memakan waktu yang banyak

6)        Untuk berjalan baiknya sebuah bermain peran, diperlukan kelompok yang sensitive, imajinatif, terbuka, saling mengenal sehingga dapat bekerjasama dengan baik. Sebagai strategi belajar mengajar, bermain peran harus dipersiapkan  dengan baik di mana semua yang terlibat baik sebagai pemeran maupun yang menyaksikannya saling memiliki keterlibatan emosional sehingga antara yang memerankan dan yang menyaksikan peran itu dapat memetik pelajaran dari kegiatan yang dilakukan secara bermian peran tersebut.

Agar penggunaan metode dapat berjalan dengan baik maka perlu juga diketahui masalah-masalah sosial yang dapat dijajagi dengan metode bermain peran. Masalah-masalah sosial yang dimaksud diantaranya adalah:

a)      Pertentangan antar pribadi-pribadi (interpersonal conflicts)

(1)   Mengungkapkan perasaan yang bertentangan

(2)   Menemukan cara pemecahan masalahnya

b)      Hubungan natar kelompok (intergroup relation)

(1)   Mengungkap hubungan antar suku, bangsa, kepercayaan dan sebgainya

(2)   Mengungkap masalah yang sering merupakan konflik yang tidak  nyata. Penggunaan bermain peran dalam hal ini untuk mengungkap prasangka dan mendorong toleransi

c)      Kemelut pribadi (individual dilemmas)

(1)   Kemelut timbul jika seseorang berada pada dua nilai atau kepentingan yang berbeda

(2)   Jika sulit memecahkan permasalahan karena penilaian yang bersifat egosentris.

d)     Dengan berorientasi pada masalah lampau dan kini (historical or contemporary problems). Menunjukkan misalnya betapa sulitnya permasalahan yang dihadapai pada masa lampau dan juga masa kini khususnya bagi para pejabat pemerintahan atau pimpimnan politik dalam menghadapi berbagai permasalahan yang menuntut pengambilan keputusan.

  1. e.       Tahap-tahap Pelaksanaan Metode Bermain Peran

Bagaimana bermain peran itu dilaksanakan dalam pengajaran IPS/SS perlu dilalui beberapa fase dan kegiatan sebagai berikut:

1)      Persiapan

a)      Persiapan untuk bermain peran:

(1)   Memilih permasalahan yang mengandung pandangan-pandangan yang berbeda dan kemungkinan pemecahannya

(2)   Mengarahkan siswa pada situasi dan masalah yang akan dihadapi

b)      Memilih pemain

(1)   Pilih secara sukarela, jangan dipaksa

(2)   Sebisa mungkin pilih pemain yang dapat mengenali peran yang akan dibawanya

(3)   Hindari pemain yang ditunjuk sendiri oleh siswa

(4)   Pilih beberapa pemain agar seorang tidak memainkan dua peran sekaligus

(5)   Setiap kelompok pemain paling banyak 5 orang

(6)   Hindari siswa membawakan peran yang dekat dengan kehidupan sebenarnya

c)      Mempersiapkan penontot

(1)   Harus yakin bahwa pemirsa mengetahui keadaan dan tujuan bermain peran

(2)   Arahkan mereka bagaimana seharusnya berperilaku

d)     Persiapan para pemain

(1)   Biarkan siswa mempersiapkan dengan sedikit mungkin campur tangan guru

(2)   Sebelum bermain, setiap pemain harus memahami betul apa yang dilakukannya

(3)   Permainan harus lancar, dan sebaiknya ada kata pembukaan, tetapi hindari melatih kembali saat sudah siap bermain

(4)   Sipakan tempat dengan baik

(5)   Kadang-kadang kelompok kecil bermain peran merupakan cara yang baik umtuk bermain peran.

2)      Pelaksanaan

a)      Upayakan agar singkat, bagi pemula lima menit sudah cukup, dan bermain sampai habis, jangan diinterupsi

b)      Biarkan agar spontanitas menjadi kunci

c)      Jangan menilai aktingnya, bahasa dan lain-lain

d)     Biarkan siswa bermain bebas dari angka dan tingkatan

e)      Jika terjadi kemacetan hal yang dapat dilakukan misalnya:

(1)   Dibimbing dengan pertanyaan

(2)   Mencari orang lain untuk peran itu

(3)   Menghentikan dan melangkah ke tindak lanjut

f)       Jika pemain tersesat lakukan:

(1)   Rumuskan kembali keadaan dan masalah

(2)   Simpulkan apa yang sudah dilakukan

(3)   Hentikan arahan dan kembali

(4)   Mulai kembali setelah ada penjelasan singkat

g)      Jika siswa mengganggu

(1)   Tugasi dengan peran khusus

(2)   Jangan pedulikan dia

(3)   Jangan bolehkan pemirsa mengganggu

Jika tidak setuju dengan car temannya memerankan beri dia kesempatan untuk memerankannya

3)      Tindak Lanjut

a)      Diskusi

(1)   Diskusi tindak lanjut yang dapat member pengaruh yang besar terhadap sikap dan pengetahuan siswa

(2)   Diskusi juga dapat menganalisis, menafsirkan, member jalan keluar atau merekreasi

(3)   Di dalam diskusi sebaiknya dinilai apa yang telah dipelajari

b)      Melakukan bermain peran kembali

Kadang-kadang memainkan kembali dapat member pemahaman yang lebih baik.

  1. B.       KERANGKA BERFIKIR

Dengan kelebihan metode bermain peran yakni antara lain dapat mengekspresikan konsep diri pada anak, membangun rasa sensitif pada anak, menghidupkan kembali situasi historis, membantu siswa mengetahui penyebab suatu kejdian atau masalah, dll maka metode ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran IPS. Mengingat IPS merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan ilmu social, metode bermain peran dapat mengoptimalkan pembelajaran IPS.

Karakteristik anak kelas V (usia 10-11 th) yang menurut Jean Piaget berada pada stadium operasional konkrit akan sangat tertarik jika suatu pembelajaran dirancang dengan metode bermain peran. Daya ingat anak pada masa ini masih sangat kuat dan untuk menerima hal-hal baru daya tangkapnya pun sangat cepat. Karena itu mereka dapat dengan mudah menghapal dan memahami skrip/naskah dari guru.

Dengan metode bermain peran (role playing) ketertarikan siswa untuk terlibat langsung akan meningkat. Optimalnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran secara otomatis perhatian mereka sepenuhnya akan terpusat pada proses pembelajaran. Dengan optimalnya ketertarikan dan perhatian siswa melalui metode Bermain Peran (Role Playing)  maka pemahaman terhadap kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang mata pelajaran IPS kelas V akan meningkat.

 

  1. C.     HIPOTESIS

“Penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) dapat meningkatkan penguasaan kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang mata pelajaran IPS kelas V SDN WATUKENONGO I”

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.      RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Suharsimi Arikunto (2006:91) penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas. Berdasarkan tujuan, setting dan lokasinya penelitian tindakan kelas (Clasroom action research), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksis pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian kualitatif. Namun demikian peneliti tidak menolak penggunaan angka-angka untuk melengkapi data penelitian agar pengambilan keputusan menjadi lebih tepat (Suharsimi,2006:95)

Kali ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas V SDN Watukenongo I dalam melaksanakan penelitian. Peneliti membuat rancangan pembelajaran dan guru kelas yang melaksanakan pembelajaran tersebut. Saat pembelajaran peneliti hanya sebagai pengamat.

Menurut Susilo (2007:19), prosedur penelitian tidakan kelas dapat dilaksanakan melalui empat komponen utama yaitu perencanaan, tindakan (pelaksanaan), pengamatan dan refleksi. Berbagai tindakan yang perlu ditempuh oleh peneliti selama penelitian berlangsung terlihat dalam siklus berikut:

PERENCANAAN
REFLEKSI

 

                                         SIKLUS 1

PELAKSANAAN
PERENCANAAN
REFLEKSI
PENGAMATAN

 

                                                                                    SIKLUS II

PELAKSANAAN
PENGAMATAN

 

Bagan Siklus PTK

 

Siklus I

  1. Perencanaan
    1. Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menitik beratkan pada penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) pada mata pelajaran IPS untuk kompetensi dasar mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang
    2. Menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan guru
    3. Menyiapkan skenario dari role playing yang akan dimainkan siswa
    4. Menyiapkan sumber,media, dan alat pemebalajaran
    5. Melihat tingkat kognitif siswa pada awal pembelajaran
    6. Menyusun perangkat evaluasi
    7. Tindakan
      1. Melaksanakan tes awal
      2. Menyiapkan alat, bahan, dan media
      3. Melaksanakan  proses pembelajaran sesuai dengan metode yang telah disusun dengan langkah-langkah yang terlihat pada RPP (terlampir)
      4. Mengarahkan/membimbing siswa untuk beraktivitas
      5. Melakukan tes evaluasi
      6. Pengamatan
        1. Mengobservasi aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan panduan instrumen observasi (terlampir). Observasi dititik beratkan pada indikator yang dicantumkan dalam lembar observasi untuk guru.
        2. Mengobservasi kegiatan siswa dalam pembelajaran yang dibantu dengan menggunakan panduan observasi kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung (instrument observasi terlampir).

Observasi dititik beratkan pada indikator yang dicantumkan dalam lembar observasi kegiatan siswa.

  1. Refleksi
    1. Melakukan diskusi dengan guru tentang hasil pengamatan terhadap guru dan siswa
    2. Mendiskusikan perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan untuk siklus berikutnya

 

  1. B.       LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN
    1. 1.         Lokasi Penelitian

Lokasi                       : SDN WATUKENONGO I

Alamat                     : Dsn. Dakon Ds. Watukenongo Kec. Pungging Kab. Mojokerto

Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti berada di daerah pedesaan dan merupakan dataran rendah. SDN Watukenongo I berada di jalan utama desa dan berdekatan  dengan pusat pemerintahan Desa Watukenongo. Jarak lokasi penelitian ke kota terdekat ± 2,5 km.

Beberapa pertimbangan peneliti memilih lokasi tersebut adalah sebagai berikut:

  • Sekolah ini bersifat terbuka artinya mau menerima setiap perubahan atau memiliki keinginan untuk berubah ke keadaan yang lebih baik
  • Masih banyak siswa kelas V SDN Watukenongo I yang kurang tertarik dengan mata pelajaran IPS khususnya sejarah sehingga pemahamannya pun kurang
  • Pembelajaran di sekolah tersebut cenderung bersifat konvensional
  1. 2.         Subjek Penelitian

Dalam suatu tempat keberagaman adalah hal yang alami. Begitu juga dengan kondisi siswa yang menjadi objek penelitian kali ini.

  • Jumlah siswa

Siswa laki-laki                = 18 anak

Siswa perempuan           = 19 anak

Jumlah total siswa          = 37 siswa

  • Latar Belakang Pendidikan Orang Tua

Pendidikan orang tua berpengaruh terhadap kepedulian terhadap proses pendidikan anak. Berikut data tentang latar belakang pendidikan siswa kelas V SDN Watukenongo I:

Grafik Latar Belakang Pendidikan Orang Tua

 

  • Latar Belakang Pekerjaan Orang Tua

Siswa kelas V SDN Watukenongo I memiliki latar belakang pekerjaan orang tua yang beragam. Berikut adalah data siswa kelas V SDN Watukenongo I dalam diagram dilihat dari latar belakang pekerjaan orang tua:

  1. C.      DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

Variabel adalah gejala yang bervariasi, yang menjadi objek penelitian. Objek penelitia merupakan hal yang menjadi titik perhatian dari suatu penelitian. (Suharsimi, 2006:118)

Dalam suatu penelitian terdapat variabel bebas dan variabel terikat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas, atau independent variable. Untuk yang menjadi akibat disebut variabel terikat, variabel tergantung, atau dependent variable (Suharsimi,2006:126)

Penelitian kali  ini yang merupakan variabel bebas dan variabel terikat adalah:

  1. Variabel bebas: metode       bermain       peran       (role    playing),   karena

dengan diterapkannya metode bermain peran (role playing) akan mempengaruhi hasil belajar yakni kemampuan mendeskripsikan mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang

  1. Variabel terikat: kemampuan     mendeskripsikan   perjuangan  para  tokoh

 pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang yang lebih dititik beratkan pada mendeskripsikan proses masuknya penjajah Belanda di Indonesia. Hasil belajar di atas merupakan akibat dari pengaruh diterapkannya metode bermain peran (role playing)

  1. D.      METODE PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN
  2. 1.      Metode Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitian ini digunakan 2 teknik  pengumpulan data, yaitu 

  1. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi, 2006:150). Kali ini peneliti menggunakan tes prestasi (achievement test) yang digunakan untuk mengukur pencapaian siswa setelah mempelajari materi yang berhubungan dengan kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang yang menitik beratkan pada proses masuknya penjajah Belanda ke Indonesia dalam bentuk tes tulis.

  1. Observasi

Observasi merupakan pengamatan langsug terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra (Suharsimi, 2006:156). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi jenis observasi sistematis yang menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Ada dua kegiatan observasi, pertama ditujukan untuk pengamatan kegiatan guru dalam proses pembelajaran dan kedua ditujukan untuk aktivitas siswa saat proses pembelajaran

  1. 2.         Instrumen Penelitian

Instumen atau alat pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Lembar Observasi Siswa

Lembar observasi berisi pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS pada kompetensi kompetensi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang yang menitik beratkan pada proses masuknya penjajah Belanda ke Indonesia dengan menggunakan metode bermain peran /role playing (terlampir)

  1. Lembar Penilaian mendeskripsikan proses masuknya penjajah Belanda ke Indonesia

Lembar penialaian berisi soal-soal untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mendeskripsikan proses masuknya penjajah Belanda ke Indonesia (terlampir)

  1. Lembar observasi kegiatan guru

Lembar observasi berisi indikator-indikator yang dilakukan guru selama proses pembelajaran berlangsung (terlampir)

  1. E.       TEKNIK ANALISIS DATA

Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis dan deskriptif kualitatif baik yang bersifat linier (mengalir)maupun yang bersifat sirkuler.

  1. 1.         Data hasil observasi

Data hasil observasi dianalisis dengan mendeskripsikan kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung serta mendeskripsikan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran selama kegiatan pembelajaran berlangsung

  1. 2.         Data hasil tes belajar
    1. Mencari Peringkat Prestasi Belajar Siswa

Untuk menentukan kriteria peringkat prestasi belajar siswa, maka peneliti harus berkomunikasi dengan tabel interpretasi belajar siswa

Interval nilai Kriteria peringkat belajar siswa
≤ 20

21 – 40

41 – 60

61 – 80

81 – 100

Sangat rendah

Rendah

Cukup

Cukup baik/aktif

Baik/aktif

 

  1. Mencari Rata-rata Kelas

                       

Keterangan:

X         = rata-rat kelas

n          = jumlah seluruh siswa

  1. Mencari Ketuntasan Belajar Siswa secara klasikal

 

Keterangan:

P  = Prosentase ketuntasan belajar klasikal

n  = jumlah siswa yang tuntas belajar

N = jumlah seluruh siswa

Siswa dikatakan tuntas apabila telah memperoleh nilai minimal 70 sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan oleh guru kelas dan peneliti. Sedangkan dikatakan dikatakan telah memenuhi ketuntasan belajar klasikal, apabila 80% dari jumlah siswa telah memperoleh nilai minimal 70.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta

Susilo. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka BOOk Publisher

Sumantri, mulyani dkk. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud

Tjipto, Waspodo, Suhanadji. Pembelajaran IPS. Surabaya: _____

Tri, Anys. 2006. Penerapan Metode Simulasi dalam Memotivasi Belajar Siswa pada Pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kedurus I Surabaya. Skripsi tidak diterbitkan, Surabaya: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya


 

LAMPIRAN – LAMPIRAN

 

  1. A.      Tabel Lembar Observasi Kegiatan dan Sikap Guru (chek list √ )
  2. B.       Tabel Lembar observasi kegiatan dan sikap siswa (chek list √ )
  3. C.      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  4. D.      SKENARIO PERMAINAN PROSES MASUKNYA PENJAJAH BELANDA KE INDONESIA
  5. E.       LEMBAR PENILAIAN MENDESKRIPSIKAN PROSES MASUKNYA PENJAJAH BELANDA KE INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. A.      Tabel Lembar Observasi Kegiatan dan Sikap Guru (chek list √ )
Aspek Kegiatan guru Terlak sana Td terlak sana keterangan
  1. Persiapan
  2. Memilih permasalahan
  3. Mengarahkan siswa pada situasi dan masalah
  4. Memilih pemain
  • Sukarela
  • Ditunjuk paksa guru
  • Ditunjuk oleh siswa lain
  1. Memilih beberapa pemain agar seorang tidak memainkan dua peran sekaligus
  2. Mempersiapkan penonton
  3. Menyampaikan tujuan permainan dan tujuan pembelajaran
  4. Meminimalkan campur tangan guru
  5. menghindari melatih kembali saat sudah siap bermain

10.  Menyipakan tempat dengan baik

  1. Memberi batasan waktu bermain
  2. Tidak menilai akting
  3. Saat terjadi kemacetan hal yang dilakukan
  • Membimbing dengan pertanyaan
  • Mencari orang lain untuk peran itu
  • Menghentikan dan melangkah ke tindak lanjut

14.  Saat pemain tersesat yang dilakukan:

  • Merumuskan kembali keadaan dan masalah
  • Menyimpulkan apa yang sudah dilakukan
  • Menghentikan arahan dan kembali
  • Mulai kembali setelah ada penjelasan singkat

15.  Saat siswa mengganggu hal yang dilakukan

  • menugasi dengan peran khusus
  • tidak mempedulikan dia
  • tidak membolehkan pemirsa mengganggu
  • Jika tidak setuju dengan cara temannya memerankan beri dia kesempatan untuk memerankannya

16.  Memberikan Tindak Lanjut

  • Diskusi

 

     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.       Tabel Lembar observasi kegiatan dan sikap siswa (chek list √ )
Aspek Kegiatan Siswa Ya Tidak Keterangan
  1. siswa antusias saat ditunjukkan materi yang akan dipelajari
  2. siswa antusias saat diinformasikan menggunakan metode role playing
  3. siswa secara sukarela menawarkan diri sebgai pemain
  4. siswa memperhatikan penjelasan guru secara seksama
  5. siswa sebagai pemain sungguh-sungguh dalam memainkan peran
  6. siswa sebagai penonton fokus pada pertunjukan yang sedang berlangsung
  7. siswa menganggap ringan soal-soal evaluasi
  8. siswa membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan soal evaluasi

 

     

 

  1. C.      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Satuan Pendidikan    : SDN WATUKENONGO I

Kelas/Semester           : V / 2

Mata Pelajaran                      : IPS

Alokasi waktu                        : 1 pertemuan ( 2 x 35 menit)

STANDAR KOMPETENSI

2        Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia

KOMPETENSI DASAR

2.1    Mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang

INDIKATOR

  • Menceritakan awal kedatangan pedagang Belanda di Indonesia
  • Menjelaskan alasan pembentukan VOC
  • Menyebutkan cara VOC memonopoli perdagangan di Indonesia
  • Menyebutkan penindasan yang dialami rakyat Indonesia di bawah pemerintahan Hindia Belanda

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

  • Siswa dapat menceritakan awal kedatangan pedagang Belanda di Indonesia
  • Siswa dapat menjelaskan alasan pembentukan VOC
  • Siswa dapat menyebutkan cara VOC memonopoli perdagangan di Indonesia
  • Siswa dapat menyebutkan penindasan yang dialami rakyat Indonesia di bawah pemerintahan Hindia Belanda

 

MATERI AJAR

Proses Kedatangan Penjajah Belanda ke Indonesia

METODE PEMBELAJARAN

  • Bermain Peran (Role Playing)
  • diskusi kelompok

 

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Awal

  1. Guru mengucapkan salam
  2. Apersepsi:
  • Guru bertanya kepada siswa
    • Apakah bangsa indonesia pernah dijajah?
    • Bangsa manakah yang pernah menjajah Indonesia?
    • Tahukah kalian proses masuknya penjajah Belanda?
  1. Guru menyampaikan penggunaan metode bermain peran dalam pembelajaran yang akan dilakukan
  2. Guru menjelaskan jalannya kegiatan yang akan berlangsung
  3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti

  1. Guru mengintruksikan siswa yang mendapatkan peran dalam permainan proses kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia untuk menyiapkan diri (proses pemilihan pemain dan pemberian skenario permainan dilakukan pada pertemuan sebelumnya dan telah dilakukan gladi bersih penampilan permainan)
  2. Siswa yang berperan sebagai penonton membantu guru mengkondisikan kelas untuk jalannya permainan
  3. Siswa penonton duduk di temapt yang telah ditentukan
  4. Guru memberi pengarahan kepada penonton agar memperhatikan jalannya permainan proses kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia dengan seksama dan agar tidak mengganggu jalannya permainan
  5. Guru menyampaikan synopsis cerita proses kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia
  6. Siswa sebagai pemain memainkan cerita proses masuknya penjajah Belanda ke Indonesia
  7. Siswa penonton memperhatikan secara seksama dan mencatat hal-hal yang dianggap penting
  8. Guru memantau jalannya permainan drama dan membantu jika terjadi kesalahan atau kemacetan jalannya cerita
  9. Setelah permainan proses kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia berakhir Siswa membentuk kelompok

10.  Secara berkelompok siswa mendiskusikan jalan cerita, tokoh-tokoh serta peranan tokoh-tokoh dalam cerita yang telah dimainkan

11.  Hasil diskusi ditulis di sebuah kertas yang telah disediakan guru

12.  Perwakilan kelompok membacakan hasil diskusi di depan kelas dan kelompok lain menanggapi

Kegiatan Akhir

  1. Guru memberi penguatan dan member informasi tambahan tentang proses kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia
  2. Guru membagikan lembar evaluasi kepada siswa untuk dikerjakan secara individu
  3. Refleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
  4. Kegiatan diakhiri dengan salam

 

SUMBER/ ALAT/ BAHAN PEMBELAJARAN

  • Skenario permainan proses masuknya penjajah Belanda ke Indonesia 
  • Susilaningsih, Endang dkk. 2008. Ilmu Pengtahuan Sosial untuk SD/MI Kelas . Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas
  • Buku ajar IPS kelas 5 lain

 

PENILAIAN

Teknik : tes

Bentuk : tes tulis, soal uraian (terlampir)

Instrumen penilaian terlampir

Mojokerto, 21 Desember 2009

Mengetahui

Kepala Sekolah                                                                       Guru Kelas

YOGI NOVIYANTO                                                                        LELY EDNA D.

NIP. 131131131                                                                     NIM. 071644020

  1. D.      SKENARIO PERMAINAN PROSES MASUKNYA PENJAJAH BELANDA KE INDONESIA

 

Pemain:

  • Pedagang pribumi 2 anak
  • Pedagang Belanda 2 anak
  • Raja Pribumi 1 anak
  • Rakyat pribumi 2
  • Gubernur Belanda

 

Sinopsis:

Bangsa Belanda datang ke Indonesia sebagai pedagang ke Banten. Mereka disambut baik oleh Raja dan rakyat Banten. Mereka mencari rempah-rempah Indonesia yang sudah terkenal kualitasnya di duni.Lambat laun pedagang Belanda menjadi serakah dan kasar. Mereka diusir dari banten dan keluar dari Indonesia.

2 tahun kemudian pedagang belanda datang kembali dengan sikap sopan dan ramah namun dalam jumlah besar. Terjadi persaingan yang sengit antar pedagang belanda sehingga dibentuklah VOC yang bertujuan menghindari pertikaian diantara mereka. Namun VOC berusaha memonopoli perdagangan di Indonesia. Mereka membentuk tentara, mencetak mata uang sendiri dan melakukan perjanjian dengan raja-raja pribumi. VOC mulai menguasai Indonesia.

Karena pegawai VOC banyak yang melakukan korupsi danVOC banyak menanggung biaya untuk perang melawan inggris, maka VOC dibubarkan dan digantikan oleh kerajaan Belanda. Pemerintahan di Indonesia dibawah kerajaan Belanda disebut pemerintahan Hindia Belanda. Pemerintahan Hindi Belanda muali menindas rakyat pribumi. Gubernur  Deandles menjadi pemimpin pemerintahan Hindia Belanda. Ia memerintahkan untuk menambah prajurit pengamanan, membangun pabrik senjata, kapal-kapal baru, pos-pos pertahanan. Untuk membiayai semua itu rakyat Indonesia ditindas lewat kerja paksa, penarikan pajak, serta tanam paksa dan semua itu berlangsung berpuluh-puluh tahun sampai ratusan tahun meskipun pemimpin hindi belanda berganti-ganti.

  1. E.       LEMBAR PENILAIAN KEMAMPUAN MENDESKRIPSIKAN PROSES MASUKNYA PENJAJAH BELANDA KE INDONESIA

 

 

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

 

 

  1. Ke manakah pertama kali pedagang Belanda datang ke Indonesia?
  2. Apa yang mereka cari di Indonesia?
  3. Mengapa mereka diusir dari Banten?
  4. Apa yang dimaksud dengan VOC?
  5. Sebutkan alasan dibentuknya VOC?
  6. Bagaimana cara VOC memonopoli perdagangan di Indonesia
  7. Mengapa VOC dibubarkan? Jelaskan!
  8. Apa nama pemerintahan di Indonesia di bawah kekuasaan Kerajaan Belanda?
  9. Apa saja program dari Gubernur Deandles saat memerintah Hindia Belanda?

10.  Apa tujuan diadakannya pelayaran Hongi yang dilakukan VOC di Maluku?

Kunci jawaban Lembar Evaluasi

  1. Daerah Banten
  2. Rempah-rempah
  3. Pedagang Belanda serakah dan kasar
  4. VOC adalah kependekan dari Vereenigde Oost Indische Compagnie yang berarti perkumpulan dagang hindia timur
  5. VOC dibentuk untuk menghindari pertikaian dan persaingan yang pelik antar pedagang Belanda
  6. Membentuk tentara keamanan, mencetak mata uang sendiri dan melakukan perjanjian-perjanjian dengan raja-raja pribumi
  7. VOC dibubarkan karena

a)      Pejabat-pejabat VOC melakukan korupsi dan hidup mewah.

b)      VOC menanggung biaya perang yang sangat besar.

c)      Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.

d)     Para pegawai VOC melakukan perdagangan gelap.

  1. Pemerintahan Hindia Belanda
  2. Program gubernur Deandles:

a)      menambah jumlah prajurit,

b)      membangun jalan raya yang menghubungkan pos satu dengan pos lainnya

c)      membangun pabrik senjata,

d)     kapal-kapal baru, dan pos-pos pertahanan

10.  mengawasi rakyat Maluku agar mereka tidak menjual rempah-rempah ke pedagang lain selain VOC

Pedoman Penilaian Lembar Evaluasi

  • jumlah soal 10 butir 
  • nilai tiap nomor benar = 10 
  • Nilai Total = jumlah jawaban benar x 10
  • Skor max = 10 x 10 = 100
 

2 Responses to “PROSAL PTK”

  1. radin Says:

    daftar pustaka tentang bermain peran belum ada. di Unesa ada PPKI g?

    • lelyedna020 Says:

      iya, ada 2 buku yg blm tercantum d dftr pustakanya,.bukunya da d perpus jurusan, 2 minggu ni q msh libur minggu tnang, mgkn minggu-minggu dpn akn q cntumkan dftr pustkanya..
      yg dimaksd PPKI tu penulisan kry tulis ilmiah? klo iya ada tiap tahun..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s